Elegi Bagi yang Tidak Pernah Pergi
Ada yang lebih menyakitkan dari perpisahan: tetap bersama tapi sudah tidak saling kenal. Dua tubuh, satu rumah, nol kehadiran. Ini sajak buat kamu yang masih di sana tapi sudah lama hilang.
Baca SelengkapnyaBukan blog biasa. Di sini kata-kata ditulis tanpa topeng, perasaan ditumpahkan tanpa izin, dan sajak lahir seperti luka — mendadak, perih, jujur.
Ada yang lebih menyakitkan dari perpisahan: tetap bersama tapi sudah tidak saling kenal. Dua tubuh, satu rumah, nol kehadiran. Ini sajak buat kamu yang masih di sana tapi sudah lama hilang.
Baca SelengkapnyaAku bukan pagi orang. Otakku mulai hidup pukul 10 pagi setelah dua kopi dan satu episode podcast. Tapi bos gue? Dia setan pagi.
Baca SelengkapnyaDi pojok gang sempit yang bahkan Google Maps pun enggan mampir, ada warung kopi yang tutup setiap malam sebelum kamu sempat menemukannya lagi.
Baca SelengkapnyaAku berdoa sambil tiduran. Berdoa sambil ngutuk. Berdoa tanpa wudhu karena mulutku terlalu jujur untuk pura-pura suci. Apakah itu masih diterima?
Baca SelengkapnyaTuhan,
hari ini aku tidak minta surga.
Aku hanya minta tidur pulas
tanpa mimpi tentang tagihan.
Aku tidak minta dicintai.
Aku hanya minta tidak disakiti
oleh orang yang pura-pura baik
lalu pergi tanpa pamit.
Aku tidak minta bahagia.
Aku hanya minta satu hari
di mana semuanya
biasa-biasa saja.
— dan itu sudah lebih dari cukup.
Ia bukan perempuan yang menunggu.
Ia yang pergi duluan
sebelum kamu sempat melambaikan tangan.
Ia bukan yang butuh dijelaskan.
Ia yang tahu sendiri
kapan harus tinggal
dan kapan harus hilang.
Kamu boleh tidak mengerti.
Ia tidak butuh
dimengerti —
cukup dihormati.
Hei, kamu yang dulu takut jadi berbeda —
ternyata berbeda itu
bukan penyakit.
Itu hanya tanda
kamu tidak cukup pengecut
untuk menjadi seragam.
Jangan minta maaf
karena terlalu banyak rasa.
Orang-orang datar itu
iri padamu
tapi tidak tahu
cara mengakuinya.
Aku tidak merindukanmu.
Aku merindukan
versi diriku
yang masih percaya
orang bisa berubah.
Aku tidak merindukanmu.
Aku merindukan
waktu sebelum aku tahu
bahwa kata sayang
bisa dipakai
seperti alat.
Jadi — bukan kamu.
Tidak pernah kamu.
Warung Bu Inem tidak pernah tutup sebelum tengah malam. Bukan karena Bu Inem tidak lelah — dia lelah. Tapi karena selalu ada orang seperti Dimas yang datang tepat pukul sebelas lima puluh sembilan, memesan kopi hitam, lalu duduk diam seperti patung kepatahan.
Malam itu Dimas datang dengan muka yang tidak bisa disembunyikan. Mata sembab, kemeja lusuh, dan aroma rokok yang sepertinya sudah menemaninya sejak subuh.
"Masalah apa lagi?" tanya Bu Inem sambil menyerahkan kopi tanpa menunggu pesanan.
"Bu Inem tahu saja," kata Dimas.
"Kamu selalu datang dengan wajah yang sama setiap kali duniamu runtuh. Sudah tiga kali tahun ini."
Dimas tertawa kecil. Pahit. "Kali ini yang terakhir."
"Kamu bilang itu bulan lalu."
"Kali ini serius."
Bu Inem duduk di depannya. Sesuatu yang jarang ia lakukan. "Anak muda, masalahmu bukan di sini." Ia menunjuk kepala Dimas. "Masalahmu di situ." Ia menunjuk ke dada. "Kamu masih cinta. Dan kamu marah pada dirimu sendiri karena masih cinta."
Dimas tidak menjawab. Ia menyesap kopinya.
Dan kopi itu — seperti biasa — terasa pahit, panas, dan entah kenapa, sedikit lebih ringan dari sebelumnya.
Dan aku baik-baik saja dengan itu. Dunia tidak runtuh. Bumi masih berputar. Tapi aku rebahan dan menonton tiga episode serial sekaligus. Besok baru kerja. Mungkin.
Lima puluh pertanyaan tentang kapan nikah, kerja di mana, gajinya berapa, dan satu pertanyaan yang paling kubenci: "Sudah punya pacar?" Aku menjawab dengan senyum hampa dan dodat yang kumasukkan ke mulut supaya tidak perlu ngomong.
Seekor kucing oranye duduk di depan warung dan menatapku seperti ia tahu semua rahasiaku. Aku duduk di sampingnya selama dua puluh menit. Tidak bicara. Tidak perlu bicara. Itu percakapan terbaik yang kumiliki minggu ini.
Cakdoel adalah nama pena. Nama yang lahir dari kebiasaan nulis tengah malam sambil minum kopi yang sudah dingin.
Di sini tidak ada personal branding. Tidak ada konten yang dioptimasi untuk algoritma. Yang ada hanya tulisan — jujur, mentah, kadang kasar, kadang terlalu puitis untuk orang yang mengklaim tidak romantis.
Kalau kamu nyaman dengan jujur, silakan menetap. Kalau tidak, pintunya tidak dikunci.
Menulis bukan terapi.— Cakdoel
Menulis adalah cara aku
membuktikan bahwa aku
masih di sini —
meski kadang tidak yakin
kenapa harus di sini.